Kelas inklusif adalah tempat di mana semua anak belajar bersama, tanpa memandang perbedaan kemampuan, karakter, atau kebutuhan khusus. Di lingkungan seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menghargai perbedaan dan saling mendukung satu sama lain.
Namun, jika perbedaan belum dipahami dengan baik, kadang muncul perilaku yang tidak menyenangkan—seperti ejekan, pengucilan, atau bahkan bentuk bullying. Di sinilah peran sekolah dan orang tua menjadi sangat penting dalam menumbuhkan budaya empati dan saling menghormati di antara anak-anak.
Guru berperan besar dalam menciptakan suasana kelas yang aman, positif, dan inklusif. Lebih dari sekadar mengajar, guru menjadi teladan bagi anak dalam bersikap dan berinteraksi.
Penelitian Hall et al. (2017) menunjukkan bahwa kebijakan anti-bullying yang jelas dan keterlibatan aktif guru dalam menangani konflik dapat menurunkan angka bullying secara signifikan.
Di sekolah, guru membantu anak memahami bahwa setiap teman memiliki keunikan, dan semua anak berhak merasa diterima. Namun, upaya ini akan lebih kuat bila didukung oleh kolaborasi yang baik dengan orang tua di rumah.
Keluarga adalah tempat pertama anak belajar memahami dunia. Nilai-nilai empati, kepedulian, dan penghargaan terhadap perbedaan tumbuh dari pengalaman sehari-hari di rumah.
Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menumbuhkan empati anak antara lain:
1. Bangun komunikasi terbuka setiap hari
Luangkan waktu untuk bertanya tentang hari anak di sekolah. Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa langsung menghakimi.
Langkah sederhana ini membuat anak merasa didengar dan dihargai, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk berbagi perasaan dan pengalaman.
2. Berikan contoh nyata dalam keseharian
Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat. Ketika orang tua menunjukkan kepedulian—seperti membantu tetangga, menenangkan teman yang sedih, atau bersikap sopan pada orang lain—anak akan meniru perilaku empatik tersebut (Borba, 2016).
3. Kenalkan dan bantu anak mengenali emosinya
Saat anak marah, kecewa, atau sedih, bantu mereka menamai perasaan tersebut, misalnya, “Kamu kecewa, ya, karena mainannya rusak?”
Menurut Eisenberg et al. (2010), mengenali emosi membantu anak memahami perasaan diri sendiri sekaligus menghargai perasaan orang lain.
4. Libatkan anak dalam kegiatan sosial
Ajak anak ikut dalam kegiatan yang menumbuhkan kerja sama dan kepedulian, seperti proyek kelompok di sekolah, kunjungan sosial, atau kegiatan berbagi sederhana.
Penelitian Zych et al. (2019) menemukan bahwa anak yang aktif dalam kegiatan sosial cenderung lebih peduli dan lebih jarang bersikap agresif.
Kerja sama antara guru dan orang tua menjadi kunci utama terciptanya lingkungan belajar yang aman dan suportif. Komunikasi rutin antara kedua pihak membantu mengenali perubahan perilaku anak lebih cepat dan menemukan solusi bersama (Rafikayati et al., 2025). Ketika sekolah dan keluarga berjalan searah, anak akan merasakan bahwa pesan tentang empati dan saling menghargai berlaku dimanapun mereka berada.
Menumbuhkan empati terhadap teman yang memiliki perbedaan—termasuk teman berkebutuhan khusus—tidak terjadi dalam semalam. Namun, proses ini dapat dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten di rumah dan di sekolah.
Dengan komunikasi yang hangat, contoh nyata dari orang tua, serta dukungan dari guru di sekolah, anak-anak akan belajar bahwa setiap teman, apa pun keadaannya, layak diterima, dihargai, dan disayangi. Empati yang tumbuh sejak dini akan menjadi dasar penting bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan berjiwa sosial di masa depan.
REFERENSI :
Borba, M. (2016). UnSelfie: Why Empathetic Kids Succeed in Our All-About-Me World.
Touchstone.
Carmona, Á., et al. (2025). Bullying and Social Exclusion of Students with Special
Educational Needs. Social Sciences, 14(7), 430. MDPI.
Eisenberg, N., et al. (2010). Emotion-Related Regulation and Its Relation to Quality of Social
Functioning. Child Development, 81(3).
Espelage, D. L., et al. (2018). Parent–Child Communication, Empathy, and Bullying: A
Pathway to Prevention. Journal of Child and Family Studies, 27(9).
Hall, W., et al. (2017). The Effectiveness of Policy Interventions for School Bullying: A
Systematic Review. BMC Public Health, 17(1).
Rafikayati, A., Badiah, L. I., Jauhari, M. N., Fisabilillah, S. N., & Fuanindah, L. (2025).
Pendidikan Anti-Bullying Inklusif: Membangun Budaya Sekolah Ramah Anak
Berkebutuhan Khusus di SMP Inklusi di Surabaya. Kanigara, 5(2)
Ručman, A. B. (2025). Bullying of Students with Disabilities in Inclusive Educational Settings.
International Journal of Bullying Prevention. Springer.
Zych, I., et al. (2019). Empathy and Bullying: A Systematic Review and Meta-Analysis.
Aggression and Violent Behavior, 45.

Leave a comment