Belajar Berbagi: Kunci Persahabatan Sejak Dini

Berbagi adalah salah satu nilai penting yang perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini. Melalui berbagi, anak belajar untuk peduli, menghargai orang lain, dan membangun dasar persahabatan yang kuat.

Pada usia 3–4 tahun, anak-anak sedang berada dalam fase perkembangan sosial yang pesat. Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, pada usia ini anak masih berada pada tahap praoperasional, di mana mereka cenderung egosentris—melihat dunia dari sudut pandang mereka sendiri. Itu sebabnya, anak-anak sering berkata, “Ini punyaku!” dan merasa sulit melepas mainan untuk dipakai orang lain. Kabar baiknya, anak mulai memahami perbedaan antara “punyaku” dan “punya orang lain”, nemun kemampuan mengendalikan emosi dan rasa kepemilikan masih terbatas. Pada tahap ini, anak bisa diajarkan berbagi, tapi perlu bimbingan, contoh, dan latihan berulang. Dengan bimbingan yang tepat, anak dapat belajar bahwa berbagi akan membuat bermain lebih menyenangkan.

Selain itu, menurut Erik Erikson, anak usia dini sedang berada pada tahap inisiatif versus rasa bersalah. Anak ingin mencoba banyak hal, termasuk berinteraksi dengan teman sebaya. Jika orang tua dan pendidik memberikan dukungan positif, anak akan belajar mengembangkan inisiatif, salah satunya melalui pengalaman berbagi.

Mengapa Berbagi Penting?

  • Membantu anak membangun persahabatan.
  • Mengajarkan empati dan kepedulian pada orang lain.
  • Melatih anak untuk mengendalikan emosi dan memahami konsep bergiliran.
  • Membentuk karakter positif yang bermanfaat hingga mereka dewasa.

Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi

  1. Melalui Permainan
    Pilih permainan yang dapat dimainkan bersama, seperti puzzle, balok, atau mainan masak-masakan. Saat bermain, bantu anak belajar bergiliran.

    “Sekarang kamu bisa pinjamkan mainan ini ke temanmu, nanti temanmu akan gantian meminjamkan padamu.”
    Dengan cara ini, anak belajar berbagi sekaligus bekerjasama.
  2. Memberi Contoh Nyata
    Anak belajar banyak dari meniru orang dewasa. Orang tua bisa menunjukkan sikap berbagi, misalnya dengan berkata:

    “Ibu mau berbagi rotiku dengan kamu. Kamu juga bisa berbagi mainanmu dengan teman, ya.”
  3. Memberikan Pujian Positif
    Ketika anak berhasil berbagi, berikan apresiasi. Pujian membuat anak merasa bangga dan ingin mengulangi perilaku baik itu.
  4. Menggunakan Cerita atau Buku Anak
    Cerita tentang tokoh yang senang berbagi akan memberi inspirasi. Anak biasanya mudah meniru perilaku dari karakter yang mereka sukai.

Mengajarkan berbagi pada anak usia 3–4 tahun memang membutuhkan kesabaran. Namun, dengan memberi contoh nyata, melibatkan anak dalam permainan bersama, dan memberikan pujian positif, anak akan belajar berbagi dengan senang hati.

Kebiasaan sederhana ini akan membentuk karakter yang peduli, empatik, dan mudah bergaul, serta menjadi bekal penting untuk persahabatan dan hubungan sosial mereka di masa depan.

Sumber: 

McLeod, S. (2023). Preoperational stage. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/preoperational.html

McLeod, S. (2023). Erik Erikson’s stages of psychosocial development. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/erik-erikson.html

Leave a comment