Kematangan Sensori dan Tantrum pada Anak

Tahukah, Parents? Tidak semua tantrum pada anak terjadi karena “ngambek” atau ingin menang sendiri. Menurut studi oleh Benarous et al. (2023), disfungsi sensori merupakan salah satu faktor yang berperan penting di balik kemarahan dan tantrum intens pada anak.

Dengan kata lain, banyak anak mengalami tantrum karena kebutuhan sensori mereka belum terpenuhi.

Contoh Pemicu Tantrum dari Sensori

Beberapa hal sederhana yang bisa memicu tantrum antara lain:

  • Suara bising yang terlalu keras,
  • Bahan baju yang terasa gatal di kulit,
  • Cahaya lampu yang terlalu terang.

Ketika tubuh anak merasa tidak nyaman, mereka belum punya cara untuk mengatur responnya. Akhirnya, ledakan emosi berupa tantrum bisa muncul.

Kondisi yang Dapat Memicu Tantrum

Selain faktor di atas, tantrum juga bisa terjadi saat kebutuhan sensori anak terganggu, misalnya:

  • Transisi mendadak, misalnya pindah aktivitas tanpa penjelasan, dapat membuat anak kehilangan kendali.
  • Dilarang bergerak, padahal tubuhnya sedang butuh stimulasi fisik.

Dalam situasi seperti ini, tantrum sering menjadi cara anak untuk “berkomunikasi” ketika mereka kewalahan.

Cara Membantu Anak Agar Tidak Mudah Tantrum

Orang tua dapat mendampingi anak dengan cara-cara berikut:

  • Kenali pemicu sensorinya, misalnya suara, tekstur, atau cahaya.
  • Ajak anak melakukan aktivitas sensori, seperti bermain pasir, air, atau menjelajahi alam.
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman, dengan menyesuaikan pencahayaan, suara, atau pakaian.
  • Validasi perasaan anak saat tantrum mulai muncul, agar mereka merasa dipahami.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak akan belajar menenangkan diri tanpa harus meluapkan emosi berlebihan. Mengenali hubungan antara tantrum dan kebutuhan sensori merupakan langkah penting bagi orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak secara sehat.

Sumber: Benarous, X. et al. (2023). Sensory Dysfunction and Tantrums in Children.

Leave a comment